Sabtu, Maret 14, 2009

BREAKING NEWS

PRESIDEN terpilih hasil Pilpres 2009, dalam pidato pertamanya hari ini mengatakan, tahun 2009 dicanangkan sebagai Tahun Anti Penggusuran Terhadap Orang Miskin. Ia menegaskan, selama dirinya menjabat sebagai Presiden, tidak akan dibiarkan terjadinya penggusuran terhadap orang miskin. Presiden juga memerintahkan para gubernur, bupati dan walikota, agar mengkaji kembali keberadaan Satpol PP yang selama ini dituding sebagai perangkat negara yang paling sering menyakiti orang miskin.

Menurut Presiden, ketika dirinya belum jadi presiden, ia sering menangis melihat aksi penggusuran yang ditayangkan di televisi. “ Terbayang di mata saya, rumah-rumah gubuk dirobohkan, penghuninya menangis, meronta-ronta sambil menggendong anak. Pedagang kaki lima didorong, dihempaskan, gerobaknya diangkut, dagangannya tumpah, tercecer kemana-mana. Mereka putus asa karena tidak tahu lagi harus tinggal dimana, dan besok anak-anaknya harus makan apa “

Presiden mengatakan, banyaknya orang miskin di perkotaan yang tinggal di tanah yang bukan miliknya, bukanlah sebuah kejahatan. Karena amanat Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Sehingga ketika seseorang belum mampu membeli tanah untuk tempat tinggal, maka mereka boleh menggunakan tanah negara yang belum terpakai.

Selama ini gubuk-gubuk liar di perkotaan dianggap merusak pemandangan dan mengganggu keindahan kota. Presiden mengatakan, keindahan kota memang penting, tapi jauh lebih penting untuk menolong orang miskin yang belum punya tanah. Sehingga tidak ada alasan bagi negara untuk menggusur orang-orang miskin atau pedagang kaki lima yang berada di pinggiran jalan. “ Apalah artinya kita menikmati keindahan kota sementara banyak saudara kita yang digusur rumahnya dan dihilangkan mata pencahariannya. Apapun alasannya melakukan penggusuran terhadap orang miskin adalah dzolim ! Dan sebagai presiden saya tidak mau ikut menanggung dosanya” , begitu tegas presiden yang meminta wartawan agar merahasiakan namanya.***

Minggu, Oktober 05, 2008

KUTUNGGU JANDAMU - JUDUL FILM YANG TIDAK MENDIDIK

DULU pada tahun 80-an, kalau kita perhatikan, judul-judul film nasional terdengar bagus-bagus dan puitis. Seperti film yang diangkat dari novel karya Edi D. Iskandar, Gita Cinta Dari SMA, Cintaku Di Kampus Biru, Puspa Indah Taman Hati dan lain-lain. Tapi melihat judul-judul film nasional sekarang, kita jadi miris dan prihatin. Bukan cuma jauh dari puitis, tapi juga terdengar vulgar, asal-asalan dan kampungan... Ada film yang judulnya Sarang Kuntilanak, Asoy Geboy dan yang terakhir dirilis sebuah film nasional yang dibintangi Dewi Persik dengan judul ' Kutunggu Jandamu', sebuah ungkapan yang pada jaman dulu biasa ditulis di bagian belakang bak truk, atau biasa jadi bahan guyonan preman kampung.

Kalau saja kita sadar betapa ungkapan 'Kutunggu Jandamu' adalah sebuah ungkapan yang tidak pantas diucapkan oleh siapapun yang masih menghargai nilai-nilai agama. Kutunggu Jandamu adalah sebuah statement, ungkapan pengharapan atau bahkan ancaman yang biasanya dilontarkan seorang laki-laki yang kecewa karena ditinggal kawin oleh pacarnya. Namun di balik kekecewaannya itu dia masih berharap kekasihnya bercerai dengan suaminya untuk kemudian bisa kembali kepada dirinya. Sebuah penantian yang sangat tidak etis karena berharap rumah tangga orang lain hancur demi memenuhi ego pribadi. Bukan tidak mungkin untuk mempercepat tujuannya, si laki-laki yang penasaran itu juga akan melakukan berbagai usaha agar kekasihnya cepat dicerai oleh suaminya ...

Untuk seorang laki-laki normal yang masih punya otak waras, pastinya tidak akan mau melakukan tindakan nekad dengan menunggu seorang perempuan yang sudah menjadi isteri orang lain. Perkawinan adalah sebuah ikatan suci yang dilindungi oleh agama dan tidak boleh dikotori oleh siapapun. Ungkapan 'Kutunggu Jandamu' hanya pantas diucapakan oleh seorang pecundang yang putus asa. Dan ungkapan tak bermoral seperti itu tidak selayaknya beredar di tengah-tengah masyarakat kita. Dan lebih tidak pantas lagi kalau dijadikan sebuah judul film yang bisa meracuni moral anak bangsa ...

Sabtu, Oktober 04, 2008

PAMERAN SANDAL JELEK

SEMAKIN sedikit orang yang berani memakai sandal baru untuk dipakai shalat Idul Fitri. Satu pemandangan yang aneh ketika umat Islam tidak saling percaya terhadap saudaranya yang lain. Jangankan untuk masalah besar, masalah kecil seperti sandal saja, kita sudah saling tidak percaya.

Seharusnya pada saat merayakan Idul Fitri kita pakai semua yang terbaru dan terbagus yang kita miliki. Termasuk sandal. Tapi karena ada ketakutan sandal baru yang kita pakai hilang atau tertukar dengan sandal lain, maka jalan keluarnya kita sengaja mencari sandal jelek untuk dipakai ke mesjid atau ke lapangan. Sehingga akibatnya pada saat shalat Idul Fitri, kita menyaksikan pemandangan aneh, jajaran sandal jelek yang dipamerkan di depan pintu mesjid dan di pingir-pingir lapangan.

Dulu memang ada cerita orang yang shalat dengan membawa sandal baru kemudian ketika mau pulang sandalnya hilang dicuri orang. Ada juga yang sandal barunya tertukar dengan sandal jelek. Tapi kasus pencurian sandal di masjid itu tidak mungkin terjadi setiap waktu, apalagi setiap hari atau setiap jumat. Kita juga belum pernah mendengar polisi mengejar atau menangkap spesialis pencuri sandal mesjid. Artinya kasus hilang atau tertukarnya sandal di mesjid hanyalah sebuah insiden dan tidak perlu kita ketakutan berlebihan. Sehingga untuk Idul Fitri tahun depan, mudah-mudahan kaum muslimin wal muslimat di Indonesia saling percaya dan tidak perlu memaksakan memakai sandal jelek untuk pergi ke mesjid ... Tahun depan, pakailah sandal terbagus untuk pergi ke mesjid. Dan tidak sepantasnya kita mencurigai saudara kita sendiri...